AKUNTANSI INFLASI
NAMA KELOMPOK :
Malvin Renaldo (24212405)
Marshellinus Sugi Boly (24212460)
KELAS : 4EB13
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016
AKUNTANSI
INFLASI
Akuntansi keuangan
merupakan media informasi yang disusun oleh manajemen selaku pengelola bisnis
untuk kepentingan publik khususnya investor dan kreditor. Informasi akuntansi
terjadi pada laporan keuangan perusahaan yang memberikan gambaran mengenai kondisi
keuangan perusahaan pada saat tertentu (neraca) serta hasil usahanya pada
periode tertentu (laba rugi). Informasi ini selanjutnya dapat digunakan sebagai
bahan dalam proses pengambilan keputusan . laporan keuangan ini telah menjadi
sumber informasi penting bagi manajemen, pemilik, analis, banker, kreditor,
regulator, dan pihak umum. Laporan keuangan merupakan sumber informasi pertama
dalam keputusan investasi, memprediksi potensi arus kas yang akan diterima dan
dikaitkan dengan ketidakpastian, menilai kemampuan manajemen dalam mencapai
tujuan utama perusahaan, dan yang terakhir memberikan informasi yang aktual dan
interpretatif tentang transaksi dan kejadian lainnya.
Untuk mengetahui metode
yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dalam akuntansi keuangan maka,
kita perlu mengetahui macam-macam metode yang digunakan dalam pembuatan laporan
keuangan. Selain mengetahui metode penyusunan laporan keuangan kita juga perlu
mengetahui model akuntansi yang diterapkan dan penilaian, perbandingan terhadap
model akuntansi yang diterapkan serta metode yang digunakan dalam pengukuran
harga wajar.
Menurut Drs. Ainun
Na’im, Ak, pengertian Akuntansi Inflasi adalah sebagai berikut : “merupakan
suatu proses data akuntansi untuk menghasilkan informasi yang telah memperhitungkan
perubahan-perubahan tingkat perubahan harga, sehingga informasi yang
menunjukkan ukuran satuan mata uang dengan tingkat harga yang berlaku.”
Akuntansi Inflasi
merupakan suatu metode untuk mengkoreksi, dengan menyatakan kembali sepenuhnya
laporan keuangan berdasarkan harga perolehan historis kedalam suatu cara yang
mencerminkan perubahan daya beli mata uang yang diukur dengan menggunakan angka
indeks. Akuntansi inflasi bukan sebagai pengganti akuntansi konvensional yang
telah ada, namun merupakan informasi tambahan bagi para pemakainya.
Tujuan dari Akuntansi
Inflasi adalah untuk mengukur kinerja suatu perusahaan dan memungkinkan setiap
orang yang tertarik untuk mengukur jumlah,waktu,dan kemungkinan arus kas masa
depan.
Metode yang digunakan
dalam akuntansi inflasi ini sama dengan metode penentuan laba. Penekanan
penentuan laba adalah pada nilai laba yang lebih relevan yang digambarkan oleh
laporan keuangan, sedangkan inflasi nilai semua item yang terdapat dalam
laporan keuangan.
Metode pengukuran aktiva
dan kewajiban dapat dibagi (Johnson,1977) sebagai berikut.
- The entry value system dari harga umum yang terdiri dari:
a.
historical
cost
b.
general
price level
c.
replacement
cost
d.
reproduction
cost
2.
The
exit value system harga pasar atau current
market value yang terdiri dari:
a.
net
realizable value
b.
selling
price
c.
expected
value
a.
Historical
Cost
Historical cost merupakan salah satu dari prinsip akuntansi.
Menurut pendapat ini cost principle atau disebut juga acquisition
cost atau historical cost merupakan dasar untuk melakukan penilaian
yang tepat untuk mencatat perolehan barang, jasa, biaya, harga pokok, dan equity.
Sistem ini telah digunakan selama beberapa abad (Ijiri, 1971). Dalam sistem historical
cost setiap perkiraan dinilai berdasarkan harga pertukarannya pada tanggal
perolehan. Berdasarkan historical cost laba direalisasikan dengan
perbedaan antara pendapatan yang direalisasikan dengan biaya yang
direalisasikan, dimana biaya tersebut merupakan pengorbanan yang diharapkan
tidak mendapatkan keuntungan di masa mendatang.
- General Prince Level
Dalam metode General
Price Level misalnya metode historical cost disesuaikan dengan perubahan
tingkat harga sehingga pada masa inflasi GPL ini lebih besar daripada nilai
historical cost.
Keuntungan GPL
adalah sebagai berikut :
- Dapat menjelaskan pengaruh inflasi pada perusahaan
- Dapat meningkatkan kegunaan perbandingan laporan antar periode
- Membantu pemakai laporan menilai arus kas dimasa yang akan datang secara lebih baik
- Memperbaiki tingkat kepercayaan rasio laporan keuangan yang dihitung dari angka-angka laporan keuangan yang sudah disesuaikan.
Kelemahan GPL
adalah sebagai berikut :
- Inflasi itu terjadi pada barang yang berbeda dan perusahaan yang berbeda jadi tidak bisa disamaratakan
- GPL tidak bermakna bagi perusahaan
- Angka yang disesuaikan tidak menggambarkan arus kas
- Rasio itu adalah indikator mentah
- Current Cost Accounting
Edgar Edward dan Philip Bell (1961) merupakan tokoh
yang paling gencar mempromosikan konsep CCA ini. Menurut mereka yang dibutuhkan
oleh manajer adalah bagaimana mereka mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang
ada untuk memaksimalkan laba.
Manajer biasanya
menghadapi masalah apakah ingin mempertahankan suatu aktiva atau utang atau
menjual atau membayarnya dan bagaimana menggunakan atau mendanai kegiatan
perusahaan. Untuk menjawab ini maka Edgar dan Bell mengusulkan
perhitungan busines profit. Busines Profit ini memiliki dua komponen:
- Current Operating Profit
- Realizable Cost Saving (Holding Gain)
a.
Replacement
cost
Replacement Cost adalah nilai yang diukur saat ini (current
cost) untuk mendapatkan aktiva baru atau menggantinya dengan kapasitas
produksinya yang sama. Dalam praktik nilai ganti ini hanya diterapkan pada
aktiva nonmoneter seperti persediaan dan aktiva tetap. Aktiva tetap disajikan
menurut nilai gantinya, nilai bersih setelah digambarkan nilai yang sudah
dipakai.
Metode ini dikritik
dalam hal:
- Subjektivitas penilaian atau taksiran harganya sehingga angka-angka yang timbul tidak didasarkan pada transaksi yang sebenarnya.
- Dalam hal harga suatu aktiva menurun maka penurunan itu akan menimbulkan pembebanan ke laba/rugi (misalnya penyusutan dan harga pokok produksi) lebih rendah dari beban pada historical cost, akhinya income akan lebih tinggi dari historical cost.
- Perubahan harga umum tidak tergambar dalam metode Replacement Cost ini, karena hanya untuk aktiva tertentu. Oleh karenanya, metode Replacement Cost ini dianggap bukan merupakan metode akuntansi inflasi.
- Sukar melakukan perbandingan antar perusahaan yang saling berbeda.
Walaupun ada kritik ini,
sebagian pihak menganggap bahwa metode ini merupakan metode yang paling mudah
diterapkan dalam akuntansi inflasi, karena meskipun terjadi inflasi dengan
metode ini akan memudahkan dalam hal pengukurannya.
- Reproduction Cost
Reproduction Cost adalah istilah lain yang hampir sama dengan Replacement
Cost. Di sini harga itu diukur berdasarkan harga sekarang jika aktiva itu
dibuat atau diduplikasi seperti barang yang dimiliki itu tanpa melihat
perubahan teknologi yang mungkin memengaruhi aktiva yang dibuat itu. Jika suatu
aktiva baru direproduksi tanpa menghiraukan perubahan teknologinya nilainya
sama dengan Replacement Cost. Dengan demikian, secara umum apa yang
berlaku pada metode Reproduction Cost ini.
- Net Realizable Value
Net Realizable Value merupakan harga jual dikurangi taksiran biaya
penjualan. Pada masa inflasi nilai dari net realizable value ini lebih
besar dari replacement cost karena manajemen tidak mungkin menjual
barangnya tanpa mengharapkan laba marjin general price level. Penyusutan
dalam metode ini dihitung berdasarkan perbedaan antara harga jual aktiva itu
pada awal dibandingkan dengan pada akhir periode.
- Selling Price
Di sini nilai yang
dipakai adalah harga jual tanpa dikurangi biaya penjualan sehingga laporan
keuangan yang disusun menurut selling price ini akan lebih besar
daripada net realizable value dan metode lainnya.
- Expected Value
Metode ini sangat
tergantung pada pengharapan seseorang jadi bisa lebih besar atau lebih kecil
dibanding dengan metode lain karena expected value ini merupakan
gambaran dari present value kas di masa yang akan datang.
Dari sudut akuntansi
inflasi, di luar historical cost adalah metode menyusun laporan keuangan
untuk menyesuaikan dengan pengaruh inflasi. Penjelasan singkat dan rangkuman
singkat dari tulisan diatas :
a.
Metode yang digunakan
dalam akuntansi inflasi ini sama dengan metode penentuan laba. Penekanan
penentuan laba adalah pada nilai laba yang lebih relevan yang digambarkan oleh
laporan keuangan, sedangkan inflasi nilai semua item yang terdapat dalam
laporan keuangan
b.
Monetary
Items adalah aktiva atau
kewajiban yang dinilai atau disajikan dalam unit uang yang tetapmisalnya kas,
piutang atau uang atau kewajiban lainnya yang angk dan jumlah nilai uangnya
yang tetap itulah yang akan ditagih, dibayar dimasa yang akan datang tanpa ada
perubahan. Sedangkan Non-Monetary Items adalah nilai dimana jumlah
uangnya tidak ditetapkan menurut kontrak perjanjian. Dalam metode historical
cost ini digambarkan sebagai old cost bukan nilai sekarang. Misalnya
aktiva tetap, lahan, bangunan, peralatan, persediaan yang akan dipakai nanti
dalam operasi perusahaan dan akan diganti terus jika perusahaan terus
beroperasi.
c.
Ada delapan model
akuntansi dalam penilaian aktiva dan penentuan laba itu, yaitu sebagai
berikut.Pengukuran menurut Unit Uang: 1) Historical Cost Accounting 2)
Replacement Cost Accounting 3)Net RealizableValue Accounting 4)Present Value
Accounting. Pengukuran menurut Unit Tenaga Beli (General Price Level = GPL)
1) GPL Historical Cost Accounting 2) GPL Replacement Cost Accounting 3) GPL
Net RealizableValue Accounting 4) GPL Present Value Accounting
d.
Dalam menilai dan
membandingkan model penilaian akuntansi tersebut, model present value
sengaja tidak diikutkan karena beberapa kelemahan sebagai berikut : 1) Sukarnya
menaksir penerimaan kas dimasa akan datang 2) Pemilihan tingkat diskontoo
yang sangat bervariasi 3) Alokasi arbitrer dari taksiran arus kas dalam
memilih asset 4) Alokasi arbitrer dan taksiran arus kas dari masing-masing
aktiva ssecara individual. Dalam memilih dan membandingkan model-model ini maka
yang menjadi dasar penilaian adalah : 1) Kesalahan yang timbul akibat masalah
waktu (timming error) 2) Kesalahan akibat alat ukur (measuring unit
errors) 3) Kesulitan dalam penafsiran (interpretability) 4)
Relevansi
e.
Metode pengukuran harga
wajar atau fair value telah berlaku di Amerika sesuai dengan statement
No. 157 tentang fair value Measurements. Statement ini mendefinikan fair
value, menetapkan kerangka untuk mengukur nilai wajar (fair velue) sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berterima umum, dan memperluas pengungkapan
tentang kengukuran fair value. Statement ini diterapkan dalam kerangka
standar akuntansi yang membutuhkan atau mengizinkan pengukuran fair value.
Dewan standar sebelumnya telah memutuskan melalui pengumuman bahwa fair
value adalah metode pengukuran yang relevan. Oleh karena itu, statement ini
tidak memerlukan metode pengukuran fair value yang baru. Namun, untuk
sebagian entitas penerapan fair value ini akan mengubah praktek yang
berlaku sekarang.
3.2 Saran
Dalam penyusunan dan
penentuan akuntansi inflasi sesuai dengan aturan yang ada dan telah disepakati
yang digunakan secara universal, sehingga memudahkan dalam mempelajari dan
dalam rangka penyeragaman penggunaan aturan.
DAFTAR PUSTAKA
Harahap, Sofyan Syafri.
2011. Teori Akuntansi. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada