Rabu, 27 April 2016

TUGAS 2 AKUNTANSI INTERNASIONAL


AKUNTANSI INFLASI



NAMA KELOMPOK            :

Malvin Renaldo (24212405)
Marshellinus Sugi Boly (24212460)

KELAS      : 4EB13




UNIVERSITAS GUNADARMA
2016






                                           AKUNTANSI INFLASI

Akuntansi keuangan merupakan media informasi yang disusun oleh manajemen selaku pengelola bisnis untuk kepentingan publik khususnya investor dan kreditor. Informasi akuntansi terjadi pada laporan keuangan perusahaan yang memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan pada saat tertentu (neraca) serta hasil usahanya pada periode tertentu (laba rugi). Informasi ini selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan dalam proses pengambilan keputusan . laporan keuangan ini telah menjadi sumber informasi penting bagi manajemen, pemilik, analis, banker, kreditor, regulator, dan pihak umum. Laporan keuangan merupakan sumber informasi pertama dalam keputusan investasi, memprediksi potensi arus kas yang akan diterima dan dikaitkan dengan ketidakpastian, menilai kemampuan manajemen dalam mencapai tujuan utama perusahaan, dan yang terakhir memberikan informasi yang aktual dan interpretatif tentang transaksi dan kejadian lainnya.
Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dalam akuntansi keuangan maka, kita perlu mengetahui macam-macam metode yang digunakan dalam pembuatan laporan keuangan. Selain mengetahui metode penyusunan laporan keuangan kita juga perlu mengetahui model akuntansi yang diterapkan dan penilaian, perbandingan terhadap model akuntansi yang diterapkan serta metode yang digunakan dalam pengukuran harga wajar.
Menurut Drs. Ainun Na’im, Ak, pengertian Akuntansi Inflasi adalah sebagai berikut : “merupakan suatu proses data akuntansi untuk menghasilkan informasi yang telah memperhitungkan perubahan-perubahan tingkat perubahan harga, sehingga informasi yang menunjukkan ukuran satuan mata uang dengan tingkat harga yang berlaku.”
Akuntansi Inflasi merupakan suatu metode untuk mengkoreksi, dengan menyatakan kembali sepenuhnya laporan keuangan berdasarkan harga perolehan historis kedalam suatu cara yang mencerminkan perubahan daya beli mata uang yang diukur dengan menggunakan angka indeks. Akuntansi inflasi bukan sebagai pengganti akuntansi konvensional yang telah ada, namun merupakan informasi tambahan bagi para pemakainya.
Tujuan dari Akuntansi Inflasi adalah untuk mengukur kinerja suatu perusahaan dan memungkinkan setiap orang yang tertarik untuk mengukur jumlah,waktu,dan kemungkinan arus kas masa depan.
Metode yang digunakan dalam akuntansi inflasi ini sama dengan metode penentuan laba. Penekanan penentuan laba adalah pada nilai laba yang lebih relevan yang digambarkan oleh laporan keuangan, sedangkan inflasi nilai semua item yang terdapat dalam laporan keuangan.
Metode pengukuran aktiva dan kewajiban dapat dibagi (Johnson,1977)    sebagai berikut.
  1. The entry value system dari harga umum yang terdiri dari:
a.                  historical cost
b.                  general price level
c.                   replacement cost
d.                  reproduction cost
2.                  The exit value system harga pasar atau current market value yang terdiri dari:
a.                  net realizable value
b.                  selling price
c.                   expected value

a.                  Historical Cost
Historical cost merupakan salah satu dari prinsip akuntansi. Menurut pendapat ini cost principle atau disebut juga acquisition cost atau historical cost merupakan dasar untuk melakukan penilaian yang tepat untuk mencatat perolehan barang, jasa, biaya, harga pokok, dan equity. Sistem ini telah digunakan selama beberapa abad (Ijiri, 1971). Dalam sistem historical cost setiap perkiraan dinilai berdasarkan harga pertukarannya pada tanggal perolehan. Berdasarkan historical cost laba direalisasikan dengan perbedaan antara pendapatan yang direalisasikan dengan biaya yang direalisasikan, dimana biaya tersebut merupakan pengorbanan yang diharapkan tidak mendapatkan keuntungan di masa mendatang.
  1. General Prince Level
Dalam metode General Price Level misalnya metode historical cost disesuaikan dengan perubahan tingkat harga sehingga pada masa inflasi GPL ini lebih besar daripada nilai historical cost.
Keuntungan GPL adalah sebagai berikut :
  • Dapat menjelaskan pengaruh inflasi pada perusahaan
  • Dapat meningkatkan kegunaan perbandingan laporan antar periode
  • Membantu pemakai laporan menilai arus kas dimasa yang akan datang secara lebih baik
  • Memperbaiki tingkat kepercayaan rasio laporan keuangan yang dihitung dari angka-angka laporan keuangan yang sudah disesuaikan.
Kelemahan GPL adalah sebagai berikut :
  • Inflasi itu terjadi pada barang yang berbeda dan perusahaan yang berbeda jadi tidak bisa disamaratakan
  • GPL tidak bermakna bagi perusahaan
  • Angka yang disesuaikan tidak menggambarkan arus kas
  • Rasio itu adalah indikator mentah

  1. Current Cost Accounting
Edgar Edward dan Philip Bell (1961) merupakan tokoh yang paling gencar mempromosikan konsep CCA ini. Menurut mereka yang dibutuhkan oleh manajer adalah bagaimana mereka mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang ada untuk memaksimalkan laba.
Manajer biasanya menghadapi masalah apakah ingin mempertahankan suatu aktiva atau utang atau menjual atau membayarnya dan bagaimana menggunakan atau mendanai kegiatan perusahaan. Untuk menjawab ini maka Edgar dan Bell mengusulkan perhitungan busines profit. Busines Profit ini memiliki dua komponen:
  • Current Operating Profit
  • Realizable Cost Saving (Holding Gain)

a.                  Replacement cost
Replacement Cost adalah nilai yang diukur saat ini (current cost) untuk mendapatkan aktiva baru atau menggantinya dengan kapasitas produksinya yang sama. Dalam praktik nilai ganti ini hanya diterapkan pada aktiva nonmoneter seperti persediaan dan aktiva tetap. Aktiva tetap disajikan menurut nilai gantinya, nilai bersih setelah digambarkan nilai yang sudah dipakai.
Metode ini dikritik dalam hal:
  • Subjektivitas penilaian atau taksiran harganya sehingga angka-angka yang timbul tidak didasarkan pada transaksi yang sebenarnya.
  • Dalam hal harga suatu aktiva menurun maka penurunan itu akan menimbulkan pembebanan ke laba/rugi (misalnya penyusutan dan harga pokok produksi) lebih rendah dari beban pada historical cost, akhinya income akan lebih tinggi dari historical cost.
  • Perubahan harga umum tidak tergambar dalam metode Replacement Cost ini, karena hanya untuk aktiva tertentu. Oleh karenanya, metode Replacement Cost ini dianggap bukan merupakan metode akuntansi inflasi.
  • Sukar melakukan perbandingan antar perusahaan yang saling berbeda.
Walaupun ada kritik ini, sebagian pihak menganggap bahwa metode ini merupakan metode yang paling mudah diterapkan dalam akuntansi inflasi, karena meskipun terjadi inflasi dengan metode ini akan memudahkan dalam hal pengukurannya.
  1. Reproduction Cost
Reproduction Cost adalah istilah lain yang hampir sama dengan Replacement Cost. Di sini harga itu diukur berdasarkan harga sekarang jika aktiva itu dibuat atau diduplikasi seperti barang yang dimiliki itu tanpa melihat perubahan teknologi yang mungkin memengaruhi aktiva yang dibuat itu. Jika suatu aktiva baru direproduksi tanpa menghiraukan perubahan teknologinya nilainya sama dengan Replacement Cost. Dengan demikian, secara umum apa yang berlaku pada metode Reproduction Cost ini.

  1. Net Realizable Value
Net Realizable Value merupakan harga jual dikurangi taksiran biaya penjualan. Pada masa inflasi nilai dari net realizable value ini lebih besar dari replacement cost karena manajemen tidak mungkin menjual barangnya tanpa mengharapkan laba marjin general price level. Penyusutan dalam metode ini dihitung berdasarkan perbedaan antara harga jual aktiva itu pada awal dibandingkan dengan pada akhir periode.
  1. Selling Price
Di sini nilai yang dipakai adalah harga jual tanpa dikurangi biaya penjualan sehingga laporan keuangan yang disusun menurut selling price ini akan lebih besar daripada net realizable value dan metode lainnya.
  1. Expected Value
Metode ini sangat tergantung pada pengharapan seseorang jadi bisa lebih besar atau lebih kecil dibanding dengan metode lain karena expected value ini merupakan gambaran dari present value kas di masa yang akan datang.

Dari sudut akuntansi inflasi, di luar historical cost adalah metode menyusun laporan keuangan untuk menyesuaikan dengan pengaruh inflasi. Penjelasan singkat dan rangkuman singkat dari tulisan diatas :
a.                   Metode yang digunakan dalam akuntansi inflasi ini sama dengan metode penentuan laba. Penekanan penentuan laba adalah pada nilai laba yang lebih relevan yang digambarkan oleh laporan keuangan, sedangkan inflasi nilai semua item yang terdapat dalam laporan keuangan
b.                  Monetary Items adalah aktiva atau kewajiban yang dinilai atau disajikan dalam unit uang yang tetapmisalnya kas, piutang atau uang atau kewajiban lainnya yang angk dan jumlah nilai uangnya yang tetap itulah yang akan ditagih, dibayar dimasa yang akan datang tanpa ada perubahan. Sedangkan Non-Monetary Items adalah nilai dimana jumlah uangnya tidak ditetapkan menurut kontrak perjanjian. Dalam metode historical cost ini digambarkan sebagai old cost bukan nilai sekarang. Misalnya aktiva tetap, lahan, bangunan, peralatan, persediaan yang akan dipakai nanti dalam operasi perusahaan dan akan diganti terus jika perusahaan terus beroperasi.
c.                   Ada delapan model akuntansi dalam penilaian aktiva dan penentuan laba itu, yaitu sebagai berikut.Pengukuran menurut Unit Uang: 1) Historical Cost Accounting 2) Replacement Cost Accounting 3)Net RealizableValue Accounting 4)Present Value Accounting. Pengukuran menurut Unit Tenaga Beli (General Price Level = GPL) 1) GPL Historical Cost Accounting 2) GPL Replacement Cost Accounting 3) GPL Net RealizableValue Accounting 4) GPL Present Value Accounting
d.                  Dalam menilai dan membandingkan model penilaian akuntansi tersebut, model present  value sengaja tidak diikutkan karena beberapa kelemahan sebagai berikut : 1) Sukarnya menaksir penerimaan kas dimasa akan datang 2) Pemilihan tingkat diskontoo yang  sangat bervariasi 3) Alokasi arbitrer dari taksiran arus kas dalam memilih asset 4) Alokasi arbitrer dan taksiran arus kas dari masing-masing aktiva ssecara individual. Dalam memilih dan membandingkan model-model ini maka yang menjadi dasar penilaian adalah : 1) Kesalahan yang timbul akibat masalah waktu (timming error) 2) Kesalahan akibat alat ukur (measuring unit errors) 3) Kesulitan dalam penafsiran (interpretability) 4) Relevansi
e.                   Metode pengukuran harga wajar atau fair value telah berlaku di Amerika sesuai dengan statement No. 157 tentang fair value Measurements. Statement ini mendefinikan fair value, menetapkan kerangka untuk mengukur nilai wajar (fair velue) sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum, dan memperluas pengungkapan tentang kengukuran fair value. Statement ini diterapkan dalam kerangka standar akuntansi yang membutuhkan atau mengizinkan pengukuran fair value. Dewan standar sebelumnya telah memutuskan melalui pengumuman bahwa fair value adalah metode pengukuran yang relevan. Oleh karena itu, statement ini tidak memerlukan metode pengukuran fair value yang baru. Namun, untuk sebagian entitas penerapan fair value ini akan mengubah praktek yang berlaku sekarang.

3.2 Saran
Dalam penyusunan dan penentuan akuntansi inflasi sesuai dengan aturan yang ada dan telah disepakati yang digunakan secara universal, sehingga memudahkan dalam mempelajari dan dalam rangka penyeragaman penggunaan aturan.

DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Sofyan Syafri. 2011. Teori Akuntansi. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada